Ada yang aneh dengan tren dalam arsitektur. Tren sebenarnya memiliki sifat sementara, singkat, sesaat, sebentar saja; sedangkan arsitektur atau bangunan akan berdiri dalam jangka waktu yang lama. Jadi, tidak tepat kalau arsitektur dikategorikan ke dalam tren.
Walaupun begitu, arsitektur memang belum lepas dari ikatan tren. Entah bagaimana mulainya arsitektur bisa bersanding dengan tren. Barangkali karena belum ada penelitian mendalam. Di sini, ada peran pengembang properti bersama media, yang melahirkan istilah tren arsitektur.
Dengan adanya tren arsitektur, maka pengembang properti lebih mudah can terarah dalam
menjual produknya. Asal ikut apa kata tren, maka propertinya pasti laku. Begitu pula dengan media arsitektur. Dengan membahas tren arsitektur, maka medianya akan laku karena orang ingin tahu, seperti apa tren arsitektur itu, terlepas apakah makna yang disampaikan tentang tren itu benar atau keliru. Lagi



Keberadaan bambu di Indonesia seperti buah simalakama. Rendahnya permintaan konsumen menyebabkan kalangan arsitek/industri tidak mengembangkannya. Akibat tidak ada pengembangan maka bambu jadi tidak menarik sehingga masyarakat tidak menyukainya.
LAWANG Sewu, gedung milik PT Kereta Api (KA) di Semarang, kini sedang dalam proses konservasi, tentu saja terlihat sumringah. Setidaknya itu terlihat di gedung utama, gedung A yang berbentuk L. Kaca mozaik di dinding bagian atas gedung ini, kini semakin jelas terlihat, bahkan jika dilihat dari luar gedung. Perjalanan konservasi gedung bikinan tahun 1904 ini memang baru saja berjalan dan masih berfokus pada bagian hall – bagian tengah gedung A.
Tongkonan di Tanah Toraja mempunyai fungsi sosial, budaya, dan adat yang berbeda-beda. Salah satu fungsinya yaitu sebagai tempat untuk menyimpan jenazah.
Plafon kaca menjadikan cahaya banyak masuk ke dalam ruang di bawahnya. Penopang yang kuat dibutuhkan agar skylight tak ambruk.

Komentar Terakhir